SENI & BUDAYA

Ritual Pernikahan Unik di Sungai Mandar

Jurnalfokus.com || Polewali Mandar – Beragam kearifan lokal suku Mandar, di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Salah satunya, tradisi Maccanring atau mengantar seluruh bahan makanan yang dipakai untuk pesta perkawinan kepada pihak mempelai wanita.

Prosesi itu wajib dilakoni pihak keluarga pria yang melibatkan sahabat dan kerabat, baik kalangan tua maupun muda dengan suka ria.

Pada umumnya, prosesi Maccanring di era modern, keluarga calon pengantin menggunakan kendaraan roda empat atau mobil pikap melintasi jalan aspal membawa bahan makanan seperti beras, kelapa, gula merah, tebu, pisang, kayu bakar, dan buah-buahan lainnya.

Beda halnya dengan Nardi, warga Desa Alu, Kecamatan Alu, Kabupaten Polman. Pihak keluarganya yang melibatkan Forum Komunikasi Pemuda Pemudi Alu (FKPPA) menggunakan alat transportasi air kuno.

Yakni, 11 unit rakit bambu melintasi Sungai Mandar mengantar segala bahan baku makanan untuk kebutuhan pesta pernikahannya ke rumah calon mempelai wanita di Desa Sepabatu, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar.

“Maccanring adalah salah satu proses tahapan pernikahan di suku Mandar. Jika umumnya menggunakan kendaraan melintasi darat membawa bahan makanan untuk kebutuhan pesta ke rumah calon mempelai perempuan,” kata Ridwan Alimuddin, pemerhati budaya suku Mandar kepada Liputan6.comSenin, 7 Januari 2019.

“Kali ini Nardi, melalui pihak keluarganya di Desa Alu menggunakan 11 unit rakit bambu dari Desa Alu ke Tinambung yang jarak tempuhnya kurang lebih 20 Km atau 5-6 jam perjalanan menyusuri Sungai Mandar,” dia menambahkan.

Menurut Ridwan, Maccanring menggunakan rakit bambu di Sungai Mandar merupakan peristiwa langka. Karena saat ini umumnya, keluarga calon mempelai membawa bahan baku makanan untuk keperluan pesta pernikahan (Maccanring) ditempuh melalui jalur darat menggunakan kendaraan roda empat jenis bak terbuka.

Konvoi rakit yang berhiaskan janur kuning ini mengundang perhatian warga yang melintas di atas jembatan Sungai Mandar di Tinambung, Kabupaten Polman. Tidak hanya itu, isi bawaan bahan baku makanan yang dikemas daun kelapa juga menarik perhatian warga, serta warganet yang melihat unggahan fotonya di media sosial.

Umumnya komentar di salah satu akun Facebook kerabat Nardi berisi kekaguman dan rasa haru lantaran prosesi acara mengantar bahan baku makanan untuk pesta pernikahan kerabatnya terbilang unik.

Kreatif, Semoga Acara nikahnya nanti dibuat lebih unik lagi dan yang pastinya lebih keren. Salut dan bikin orang jadi baper,” tulis Idha melalui dinding Facebook milik Freedom seorang mahasiswa pencinta alam di Polman.

Sementara itu, Pelestari Sungai Mandar Muhammad Ishaq yang juga penggerak Komunitas Sureq Bolong Polman, mengaku bangga dengan orangtua dan keluarga Nardi, warga Desa Alu, Kecamatan Alu yang merawat budaya pernikahan melalui peradaban alat transportasi kuno di Sungai Mandar.

“Jauh sebelum kami lahir, leluhur kami di tanah peradaban Mandar. Telah menyusun prosesi pernikahan dalam imajinasi zaman lampau yang masih ditentukan secara mutlak oleh orang tua, dan rumpun keluarga. Termasuk Maccanring yang punya tata cara pelaksanaan. Punya aturan tersendiri sesuai tradisi waktu pelaksanaannya, seperti dari pukul 14.00 Wita hingga pukul 16.00 Wita,” kata Muh Ishaq seperti dikutip Liputan6.com.

Menurut Ishaq, Maccanring menggunakan media sungai sebagai lalu lintas rakit membawa bahan baku makanan untuk pesta pernikahan bukan hal yang mudah, tetapi tetap unik dan keren pada era modern saat ini.

Namun ada semacam simbol makna kuat dari tradisi leluhur tentang pernikahan tradisional Mandar. Apalagi melintasi sungai yang sama dengan nama suku Mandar itu sendiri.

“Maritim itu satu kesatuan dari segala aspek. Dan sangat kental dengan histori suku Mandar, termasuk populasi sebaran warganya dari hulu ke hilir. Termasuk pelaut ulung yang urban ke pulau-pulau lainnya diluar Sulbar. Adalah sebuah kesempatan yang sangat berharga saya sendiri ikut dalam prosesi Maccanring menyusuri Sungai Mandar dengan rakit,” kata Ishaq.

“Karena saya merasakan langsung getaran air Sungai Mandar yang meliuk-liuk di atas rakit, apalagi prosesi seperti sudah langka dilakoni. Dan memang selama ini kita sudah lama membelakangi sungai sebagai sumber peradaban yang mulia,” dia menandaskan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close